Postingan

Tentang Saya

Gambar
Halo, saya Nabilah Rosyadah. Saya adalah penulis, penulis lagu, dan kreator independen yang bekerja di berbagai bentuk cerita—mulai dari novel, komik, webtoon, hingga musik dan konten digital. Saya menulis tentang kehidupan, proses bertumbuh, hingga keresahan social Menulis Saya memulai perjalanan kreatif saya melalui dunia menulis dan kemudian terlibat dalam berbagai proyek buku, komik, dan webtoon sebagai penulis, editor, maupun letterer. Beberapa karya yang pernah saya kerjakan antara lain Yesterday in Bandung, Dear, Me, Cuko, Virgo and The Sparklings: Movie Companion, series Kapten Yaskid, hingga Tira: Tragedi. Musik Selain menulis, saya juga menulis dan menyanyikan lagu. Musik bagi saya adalah cara lain untuk bercerita. Lagu-lagu yang saya buat berangkat dari berbagai pengalaman dan keresahan. Saya tumbuh dengan musik Jepang dan anime song, terutama J-pop, sehingga pengaruh tersebut cukup terasa dalam perjalanan bermusik saya. Saat ini saya mengembangkan musik secara independen, b...

Mengapa Menjadi Penulis Webtoon Tidak Semudah yang Dibayangkan? Ini Tujuh Kendalanya

 Saya menjawab ini berdasarkan pengalaman saya sebagai editor komik sekaligus penulis, ya. Hal ini juga berlaku ke webtoonist~ Kendala yang biasanya ditemukan pada penulis pemula adalah: Belum bisa merumuskan premis (karakter + tujuan + halangan/urgensi). Kalau ditanya karakternya seperti apa? Tujuannya apa? Halangannya apa? Urgensinya apa? Banyak yang belum mampu menjabarkan atau merumuskannya. Padahal, premis adalah hal pertama yang dinilai editor. Diminta menulis sinopsis 1–1,5 halaman yang mencakup awal hingga akhir cerita, malah nyembunyiin akhir cerita… alasannya, biar jadi kejutan. Halo! Editor itu orang yang harus tahu SEMUANYA , termasuk plot twist dan akhir cerita karena dia harus menilai keseluruhan ceritamu, bahkan sebelum menyentuh naskahmu. Jadi premis dan sinopsis itu penting! Tidak perlu rahasia-rahasiaan. Editor professional punya tanggung jawab pekerjaan, termasuk hal-hal yang terkait legalitas atau hak cipta. Diminta buat plot per episode berdasarkan struktu...

AI (Akal Imitasi) dan Masa Depan Penulis: Pedang Bermata Dua yang Tak Bisa Diabaikan

Gambar
  Menurut pendapat saya, merebaknya AI (Akal Imitasi atau Artificial Intelligence) terutama dalam penerbitan-penulisan (hingga industri kreatif) bisa menjadi pedang bermata dua.   AI untuk awam: AI adalah alat yang bisa menjadikan siapa pun menjadi "penulis", "desainer", "ilustrator", "musisi", "pembuat film" dsb hanya dengan menulis prompt dan klik. GRATIS. Meskipun tanpa kepemilikan hak copyright . Mereka akan hype dengan AI karena membuat mereka bisa melakukan sesuatu tanpa harus bertahun-tahun latihan… praktis. Namun, kemampuan mereka tidak akan terasah seperti para professional yang belajar dari awal dan berproses selama bertahun-tahun. Ada jatuh-bangun, belajar-revisi hingga menghadapi industri nyata yang tidak dialami oleh para awam.   Ada sense dan pengalaman yang membedakan antara awam dan professional. Jika masuk ke lingkup industri, akan ada hal lain seperti,   "Kok tulisan ini template sekali? Mirip sama akun A, B, C...

Jangan Menulis Topik yang Tidak Kamu Pahami Sebelum Melakukan Ini

  Bisakah kita menulis sesuatu yang tidak familier? Jika ingin menulis sesuatu yang tidak familier bagi kita, maka kita perlu RISET. Cara riset bisa dengan membaca banyak buku/jurnal, menonton berbagai film, series, dan podcast terkait, mengobservasi orang-orang. Jika punya budget, bisa konsultasi ahli. Sepenting dan segenting apakah sehingga kita ingin menulis tentang hal itu? Saya menyarankan, untuk mulai menulis atau memilih tema yang dekat dengan keseharian kita. Kenapa? Karena menulis sesuatu yang dekat dan familier akan membuat kita lebih rileks dan "tahu". Juga, untuk membiasakan kita menulis panjang dan SELESAI. Konsekuensi menulis yang "jauh" dari keadaan kita (tanpa riset proper dan sabar) adalah KEMALASAN dan berhenti di tengah jalan atau terlalu bingung untuk menuliskannya.

Pengalaman mengajukan naskah melalui Gramedia Digital Publishing System(DPS)

Gambar
  Saya pernah mengajukan naskah melalui DPS. Untuk yang belum tahu: DPS (Digital Publishing System) adalah sebuah portal berbasis web yang bertujuan untuk menjembatani penerbit-penerbit Kompas Gramedia dengan pengarang. Dengan adanya Digital Publishing System, sistem penerimaan dan pengelolaan naskah akan menjadi lebih terorganisir. Selain itu, pengarang juga lebih mudah untuk menyalurkan naskahnya ke penerbit.. (dikutip dari: situs DPS Gramedia) https://dps.gramedia.com/   Untuk kemudahan pengajuan… 10/10-lah. Namun, untuk lolos hingga terbit… ternyata susah minta ampun. Bahkan, untuk mendapat kepastian soal naskah kita pun sulit dan waktu tunggunya tidak sebentar.     Nyaris setahun sejak saya mengirim naskah terbaru saya, ke satu penerbit di DPS. Saya hanya pilih satu karena menganggap naskah saya paling cocok dengan penerbit tersebut. Sebelum naskah ini, saya pernah mengajukan setidaknya 2–3 naskah yang semuanya berakhir dengan status: BANK NASKAH...

Red Flag Studio Kreatif: Ciri-Ciri yang Bisa Terlihat Sejak Iklan Lowongan

  Berdasarkan pengalaman pribadi dan utas di X: LinkedIn , perhatikan ketika studio melakukan perekrutan. Biasanya, di postingan memuat: 1. Batasan Usia (misalnya “Maksimal 25 Tahun”): Pekerja yang lebih muda dan minim pengalaman cenderung lebih mudah dieksploitasi serta kurang memahami hak ketenagakerjaan. 2. Studio meminta ilustrator untuk bisa style gambar apa pun (palugada). Masalahnya: • Setiap ilustrator memiliki spesialisasi style gambar tertentu. • Studio seperti ini cenderung memaksa satu orang menguasai (hampir) semua style tanpa pelatihan dan kompensasi memadai yang berpotensi menjadi bentuk eksploitasi, bahkan bisa meminta ilustrator melakukan tracing baik dari ilustrasi lain maupun hasil AI (Akal Imitasi/Artificial Intelligence). • Evaluasi portofolio seharusnya sudah menentukan kecocokan gaya dengan kebutuhan studio. 3. Berlokasi di Kota S (termasuk Y dan Sl): Berdasarkan berbagai testimoni, banyak studio eksploitatif di wilayah kota S, Y, Sl ini. U...

Rahasia Gelap Industri Ilustrasi? Dugaan Eksploitasi di Kota S Disorot

  Di platform media sosial X, banyak ilustrator dan seniman di Indonesia, khususnya yang bekerja di Kota S (termasuk wilayah Y dan Sl), menyuarakan kekhawatiran mereka terkait praktik eksploitatif di sejumlah studio. https://x.com/0R4LE/status/1900160543618744444 Jika kamu berprofesi sebagai ilustrator, animator 2D, rigger Live2D, modeler 3D, maupun staf administrasi, penting untuk mewaspadai berbagai taktik eksploitasi berikut (dirangkum dari berbagai testimoni): Bentuk-Bentuk Eksploitasi dalam Industri Ilustrasi di Indonesia: Merendahkan Profesi Ilustrator : Ilustrator diperlakukan sebagai “kasta terendah” dalam rantai produksi. Upah Sangat Rendah : Kompensasi jauh di bawah standar industri, bahkan lebih rendah dari Upah Minimum Regional (UMR). Lembur Berlebihan : Karyawan (terutama ilustrator) dipaksa bekerja melebihi jam kerja normal tanpa kompensasi tambahan. Revisi Tanpa Batas : Tidak ada batasan revisi, sehingga menyebabkan beban kerja berlebihan ta...